Sabtu, 15 Februari 2014

Hai "KAMU"


Hei lama tak bertegur sapa…
Apa kabar kamu disana?
Kuharap baik- baik saja.
Apa kamu masih sering mengenakan semua hal yang berbau salah satu klub sepak  bola kesukaanMu itu?
Apa kamu tahu.. aku rindu teriak Semangatmu “ForzaMilan” hahaha.. masih selalu saja tentanng bola..
Apa kamu tahu.. aku rindu kau memanggil namaku dengan penggalan unik yang hanya kamu yang memanggilku dengan sebutan itu.
Aku masih bertanya,  apa benar aku teralu menutup diri ?? … yaaa itu semua terus terngiang dikepalaku asal tahu saja… itu karena kata-katamu disela-sela bunyi raungan kendaraan bermotor disekitar kita..
Aku masih bertanya-tanya, apa benar aku terlalu british dan alkitabiah ?? … ya seperti bunyi salah satu sms mu disela- sela pagiku dengan ucapan selamat pagimu yang tidak seperti biasanya.. “Semangat In!!”
Bukan hal yang salah kan bila sedikit terseyum mengingatnya..

Yayaya… kamu itu simple, tidak neko- neko.. tapi selalu sukses membuat ku terseyum..
Selau sukses menggangguku dengan semua lelucon konyolmu..
Bahkan sukses membuatku menangis, menagis saat harus melepaskan mu yang terlalu indah untuk dipertahankan dalam keraguan dalam ketidakdewasaaan kita.
Entah kenapa kali ini aku rindu kembali bercertia banyak dengan mu, seperti dulu yang sering kita lakukan.
Sekedar bercerita tentang apa yang kita jalani diiringi derai tawa lepas kita..
Disela – sela sibuknya perkuliahan yangkini tak lagi kurasa. Maklum saja aku sedikit lebih beruntung dapat menyelesaikan perkuliahan lebih cepat darimu.. oh iya, terus berjuang ya disana. Aku menunggu di puncak sukses. Menunggu untuk kembali mengurai cerita masa- masa indah kita suka dan duka kita, tawa kita, dan sedikit  ego yang terjadi diantaranya.
Mungkin dulu pernah kumenangis karena mu, mungkin  juga kamu pernah kecewa padaku,” maaf” .. hanya itu yang bisa ku ucapkan. Tapi sungguh aku rindu rindu untuk kembali berbagi kisah, berbagi cerita denganmu tentang tentang hujan yang menitik perlahan, tentang indahnya mentari di pagi hari, tentang waktu  yang terus bergulir dan kisah kita yang terjadi diantara nya.
Terlalu pelit rasanya bila terima kasih ku tak terlafalkan untukmu..
Terimakasih untuk nasihatmu, untuk pesan penuh makna dari mu, untuk waktu yang kita habiskan bersama, untuk sukacita dalam kerjasama kita yang sempat terajut dalam tim yang solid, untuk gurau dan celoteh bodoh mu ditengah gundah ku, untuk menjadi malaikat pelindungku, untuk menjadi yang pernah singgah dihatiku.. sesaat namun indah.
Tak lupa ku mengucap maaf.. maaf bila pernah kecewakan mu maaf karena pernah menjadi seseorang yang selalu merepotkanmu, maaf karena tak pandai membaca maksud hatimu, maaf untuk sesuatu yang tak sempat terucap.
Terlalu banyak cerita antara kita yang belum sempat terangkai dalam kata.
Dan hujan selalu bisa membuatku kembali mengingat segalanya.
Terima kasih hujan, karena sempat menahan kita disamping gereja tua.. dibulan natal 3 tahun lalu.
Jujur… sakit saat kau menjawabku dengan nada tegas “Kamu Jahat in!” di akhir penerbangan 3 jam kala itu.
Sulit mendesak ku jujur dalam situsi seperti itu, dalam keadaan yang sungguh tidak mengizinkan.
Kadang aku menyesal untuk beberapa kesempatan yang kulewatkan menjawab tanyamu, pertanyan yang berbeda dalam waktu waktu yang juga tak  sama namun mengandung maksud yang selalu saja sama. Mungkin salah ku.. yang kali itu tak cukup dewasa.. dan kita yang masih terlalu angkuh untuk mengaku rasa.
“..Adakah waktu mendewasakan kita.. kuharap masih ada hati bicara..
Mungkinkah saja.. terurai satu persatu pertikaian yang dulu.. bagai rinduku..
Semoga”
Mengutip lirik dari sebuah lagu berjudul “Semoga”
Kutulis ini dalam penuh kerinduan
Untuk mu yang terlau indah bila hanya dianggap sebagai sahabat..
Untuk mu yang terlalu indah untuk dilupakan.
Dalam doa tulusku.. dalam indah bayang semu mu.. dalam diam harapku..
AGAPE … tanpa sayarat.. tanpa batas..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar